Alm. Sabam Sirait Disemayamkan di Gedung Parlemen Sebelum Dimakamkan di Kalibata

Foto: Acara sejak dari rumah duka, Gedung MPR/DPR/DPD R.I hingga TMP Kalibata, dan partisipan zoom meeting yang menyaksikan acara

Hipakad’63.News-JAKARTA

Alm. Sabam Sirait (85 tahun) Senator Indonesia, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) R.I dari provinsi DKI Jakarta yang meninggal pada Jum’at (29/09/2021) malam di RS Siloam Karawaci, disemayamkan di Gedung MPR/DPR/DPD R.I, Senayan Jakarta, minggu (03/10/2021) sebelum dibawa ke Taman Makam Pahawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Sebagai pemegang Penghargaan dari Pemerintah (Presiden RI) berupa Bintang Mahaputra Utama, menjadi dasar dimakamkannya Alm. Sabam Sirait di TMP Kalibata, Jakarta Selatan. Sebelumnya, Alm. Sabam Sirait disemayamkan di gedung Parlemen Senayan, Jakarta, setelah prosesi upacara adat dan keagamaan di rumah duka, yang diikuti media ini melalui zoom meeting yang disebarkan pihak keluarga.

Di Gedung Parlemen Senayan Jakarta, jenazah Alm. Sabam Sirait diterima jajaran DPD RI, dengan sebuah upacara penghormatan terakhir, berupa pembacaan Riwayat Hidup Sabam Sirait, Doa yang dipimpin Pdt. Saut Sirait, M.Th (Dosen Sekolah Tinggi Theologia HKBP Pematang Siantar). Acara dipimpin Inspektur Upacara, DR. Mahyudin, ST., MM, mewakili Pimpinan DPD RI, yang sekaligus memimpin hening cipta bagi Alm. Sabam Sirait.

Usai acara di Gedung Parlemen, Senayan, selanjutnya jenazah dibawa ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata. Di Kalibata ada prosesi pemakaman yang dipimpin Inspektur Upacara, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) R.I, Bambang Soesatyo, SE., MBA.

Sedangkan perwakilan dari Pemerintah hadir, Menko Kemaritiman dan Investasi, Jend. (Purn). Luhut B. Panjaitan, MPA, bersama beberapa Menteri Kabinet dan Pejabat Negara lainnya. Cukup banyak yang hadir di lokasi pemakaman, kendati rata-rata yang hadir tetap melakukan prokes dengan mengenakan masker.

Dalam sambutannya, Luhut Panjaitan mengatakan, Sabam Sirait adalah seorang patriot dan pendekar demokrasi.

“Almarhum Sabam Sirait adalah seorang patriot. Beliau juga seorang pendekar demokrasi yang teguh. Selamat Jalan pak Sabam Sirait. Anda telah meninggalkan legacy yang kuat bagi generasi muda Indonesia,” ungkapnya.

Sementara mewakili keluarga, Maruarar Sirait, putra sulung Sabam dalam sambutannya mengatakan, keluarganya mengucapkan terimakasih kepada Presiden Jokowi, yang telah memberi perhatian luar biasa, bahkan sampai mengirim tim dokter kepresidenan untuk mengecek keadaan Sabam sebelum wafat.

“Setengah jam sebelum bapak meninggal dunia, bapak Presiden masih berbicara dan menguatkan ibu kami,” kata Ara, sapaan akrab Maruarar, Minggu (03/10/2021).

Dikatakan Ara Sirait, Jokowi juga banyak membantu kelancaran prosesi pemakaman sang ayahanda. Ucapan terima kasih juga khusus disampaikan Ara kepada Megawati dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto

“Terima kasih kepada Ketua Umum Ibu Megawati Soekarnoputri yang menyiapkan protokol partai untuk deklarator PDI yang masih hidup. Dengan ambulans yang siap mendampingi hingga hari ini,” kata Ara

Banyak junior Alm. Sabam Sirait yang merasa kehilangan atas kepergian Sang Pejuang Demokrasi dan Politisi Sejati itu. Mereka mayoritas dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), tempat Sabam Sirait pertama melabuhkan dirinya sebagai aktivis mahasiswa, saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), lulus D II tahun 1958.

Kiprahnya diawali dari mulai anggota, kemudian menjadi Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Jakarta, hingga pernah menjadi Pengurus Pusat GMKI. Selanjutnya, dia masuk ke panggung politik, mulai dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan menjadi Sekjen tahun 1965. Hingga menjadi Deklarator Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan juga sebagai Deklarator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sabam dikenal sebagai sosok yang teguh pada prinsip demokrasi dan berkeadilan, serta keberpihakannya yang kental kepada kaum lemah alias ‘wong cilik’. Tentu banyak peristiwa yang dilaluinya, selama menjadi politisi yang berkiprah dalam kepemimpinan 7 (tujuh) Presiden sejak Indonesia merdeka hingga sekarang.

Termasuk ketika sebelumnya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) R.I, hingga bertransformasi menjadi DPR R.I, dan beberapa kali menjadi anggota DPR R.I, maupun pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) R.I, dan terakhir anggota DPD R.I.

Berbagai pihak menilai, kepiawaian Sabam Sirait terlihat dari ketangguhannya dalam menghadapi badai politik sejak Orde Lama, Orde Baru yang penuh dinamika, serta Orde Reformasi yang makin dinamis. Termasuk kelenturannya dalam melakukan lobi-lobi politik hingga selalu kritis terhadap Pemerintah, dalam menegakkan demokrasi yang berkeadilan.

Sabam Sirait meninggalkan seorang istri yaitu, dr. Sondang Sidabutar, MM serta anak dan menantu: Maruarar Sirait, S.IP / Shinta Triastuti br Sidabutar, SE; dr. Batara Imanuel Sirait, Sp.OG KFER / Tasya Purba, S. Si; Johan Sirait SH/Cynthia Margaretha br Sidabutar; Mira Sirait, S.Psi.  MSc/ Putra Nababan, BA. Beserta para cucunya: Marsahala Yoshua  Sirait, SH, Amaris Sirait; Ayra Sirait, Alaska Sirait, Alva  Sirait, Aubriel Nababan, Gabriel Nababan, dan Namora Nababan.

Adapun Riwayat Hidup Sabam Sirait, diuraikan berikut ini. Lahir: Pulau Simardan, Tanjungbalai, Sumatra Utara, 13 Oktober 1936, Menerima Penghargaan: Bintang Mahaputra Utama dari Pemerintah, Presiden Republik Indonesia.

Karier:

* Anggota DPR Gotong Royong (DPR-GR)  periode 1967-1973

* Anggota DPR RI  periode 1973-1982

* Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (DPA-RI) periode 1983-1993.

* Anggota DPR RI periode 1992-2009

* Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), periode 2019– sekarang

Partai Politik:

*Pejabat Sekretaris Jenderal Partai Kristen Indonesia (Parkindo): periode 1963-1967

* Sekretaris Jenderal Parkindo: periode 1967-1973

* Penandatangan Deklarasi Pembentukan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), tanggal 10 Januari 1973

* Sekretaris Jenderal PDI tiga periode: periode 1973-1976; periode 1976-1981; dan periode 1981-1986

* Pendiri Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), September 1998.

* Anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI Perjuangan: 1998-2008

Hingga malam hari sekitar pukul 19.15 WIB, lagu-lagu rohani dan lagu kepahlawanan Indonesia masih berkumandang di TMP Kalibata, oleh penyanyi senior Rita Butar-butar dan groupnya. Para keluarga dan para pengunjung yang hadir di lokasi, masih berfoto di makam Sabam, dan peserta dari zoom meeting masih dapat menyaksikannya. DANS