Pandemi Covid19 ; Nasib Pedagang K5, Laris atau Miris??

Hipakad63.news  |Pangandaran–

Dampak wabah COVID-19 ber-imbas pada banyak sektor kehidupan tak terkecuali lapisan masyarakat bawah seperti para pedagang yang dengan gerobag dorong. Para pedagang ini merasakan kerugian akibat menurunnya pembeli, Minggu (28/11/2021).

Hampir dua tahun kita bersama COVID-19. Pandemi yang berasal dari sebuah virus yang tidak kasat mata, membuat kita harus melakukan banyak perubahan kebiasaan agar tidak terjangkiti.

Salah satu penyesuaian yang harus kita lakukan, adalah penyesuaian terhadap pengeluaran. Ini disebabkan, selama pandemi Covid-19 melanda dunia, penghasilan pun menjadi berkurang drastis.

Saya (media Hipakad63.news-red) coba melakukan survei ke salah satu Pedagang Siomay di pelabuhan Cikidang di Babakan Kabupaten Pangandaran Jawa Barat bernama Mustopa, yang merupakan pedagang makanan ringan seperti batagor dan siomay.

Mustopa (31) asli kelahiran Ajibarang Jawa Tengah yang sudah lama berdomisili di pangandaran ini mengakui dirinya mengalami kemerosotan akibat kurangnya pembeli, namun beliau tetap bertahan.

“Demi keluarga dengan 2 ( dua) anaknya yang kecil berumur 5 tahun belum sekolah, dan satunya umur 7 tahun kelas 2 SD, yang masih butuh biaya sehari-hari sejak berpisah dengan istrinya,”ungkap Mus.

“Sampai kapankah pandemi ini akan bersama kita? Tidak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Kita hanya bisa berdo’a agar cepat berakhir, dan berusaha mengubah kebiasaan agar penyebaran pandemi tidak terus terjadi” tuturnya.

“Untuk sementara ini saya mengurangi belanja bahan dulu, pas corona ini muncul, usaha saya sepi banget jarang ada yang beli, untung masih ada pelanggan tetap” ucapnya.

“Dagangan saya pernah tidak ada yang beli sama sekali, saya pulang tapi panci masih penuh sama siomay terus grobog saya juga masih penuh sama batagor” keluh Mustofa.

“Pendapatan sama pengeluaran ya tidak seimbang, alias kebanyakan pengeluaran-nya. Sedangkan tiap hari saya mesti makan sekarang harus berhenti dulu,” ucap Mustopa.

Mustopa juga bercerita walau sepi saat berjualan, beliau masih bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hingga uang jajan untuk anaknya, walau tidak seperti sebelum pandemi, sekarang ini saya mesti berhati-hati dan harus perhitungan sebelum datang pandemi ini, bisa menjual siomay sebanyak 7 (tujuh) kg per hari.

“Tapi selama pandemi, siomay yang bisa dia jual hanya sekitar 1 (satu) kg per hari, dengan pendapatan 300 ribu perhari, dengan modal pinjaman dari salah satu koperasi di Pangandaran dengan sistem kerjasama,”paparnya.

“Biasanya jualan dari rumah ke tempat wisata atau ke pelabuhan Cikidang, ya keliling-keliling saja nanti juga habis. Tapi sekarang keluar rumah saja berfikir, saya berharap ya mudah-mudahan Ramadhan sama Lebaran tahun ini seperti dulu lagi ramai orang-orang yang beli. ” ujarnya.

Harapan Mustofa pada masa pandemi ini pemerintah memberikan bantuan kepada pelaku usaha kecil UMKM, karena tidak ada satu orang pun yang berpikir pesimistis apakah masih ada rezeki atau pekerjaan yang bisa menopang hidup, khususnya mereka yang terkena PHK.

“Modal terbesar yang kita punya saat ini adalah semangat untuk bangkit, semangat untuk optimistis kalau hari ke depan itu kita bakal lebih baik lagi dengan doa dan usaha kita,” tegasnya