Konveksi Perumahan Di Pangandaran Keluhkan Omzet Turun

Hipakad63.news l PANGANDARAN –

Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat”.

Beberapa jenis UKM di Indonesia, salah satunya adalah industri konveksi. Industri konveksi adalah suatu perusahaan yang menghasilkan pakaian jadi, seperti pakaian wanita, pria, anak, pakaian olahraga, maupun seragam perkantoran.

Industri konveksi bisa dibilang perusahaan yang sedang, karena tenaga kerjanya masih dibilang sedikit. Industri konveksi sekarang ini cukup men-jamur di berbagai daerah¸ salah satu daerah di Indonesia yang terdapat banyak industri konveksi dan pertumbuhan industri konveksi-nya sangat pesat adalah di Kabupaten Pangandaran.

Persaingan konveksi jenis pakaian jadi sangat banyak khususnya di kabupaten pangandaran. Perusahaan harus cepat dan tepat dalam melihat apa yang sedang pasar butuhkan. Permintaan terhadap produk – produk yang dihasilkan industri konveksi perumahan juga akan semakin tinggi.

Para pengusaha industri konveksi perumahan harus lebih sensitif terhadap permintaan pasar agar tidak kalah saing dengan industri konveksi perumahan lainnya. Perusahaan akan menghadapi dua kemungkinan, yaitu peningkatan atau penurunan jumlah permintaan.

Covid-19 menjadi masa paling suram bagi Konveksi Perumahan di Kabupaten Pangandaran yang mayoritas penduduknya selain bertani, berkebun, beternak dan pedagang adalah konveksi pakaian jadi, hal demikian di keluh-kan salah seorang pengusaha.

Bagaimana tidak, omset usaha yang dirintisnya sejak lama menurun dengan sejumlah order, harga pengerjaan-nya yang sangat murah atau pesanan dibatalkan dan target tidak pas ditambah produksi bahan lagi ter-kendala.

Saat kami dari media Hipakad’63 News bersilaturahmi ke rumah industri milik warga di Dusun Kawarasan Desa Sindangwangi Kecamatan padaherang kabupaten Pangandaran. Sabtu, 11 Desember 2021.

Nurjanah merupakan salah satu pengusaha konveksi perumahan, saat kami duduk santai sambil ngopi, “Nur menceritakan usahanya yang sekarang masih bertahan di masa sulit seperti sekarang ini, penurunan omset kurang lebih sekitar 20-50 persen, padahal dari usaha konveksinya, omset bisa mencapai puluhan juta per bulan saat kondisi normal atau sebelum munculnya wabah.

“Usaha pakaian yang rata rata di kerjakan oleh penjahit profesional ahli dalam model itu juga biasa melayani pesanan CMT, PO bahkan bisa produksi ribuan pakaian jadi perhari tergantung model dan harga satuan-nya” tutur Nurjanah

Paling banyak order pakaian Gamis, Daster, dan kebanyakaan pakaian perempuan, dari anak-anak sampai Dewasa,” ucapnya.

Ia memperoleh order dari Jakarta, Tangerang dan Bandung dengan system siap jait atau siap dikemas. Dalam seminggu, Nurjanah bisa setor ke bosnya bias mencapai 5000 potong pakaian jadi, dengan jumlah karyawan 12, ada yang kerja di tempatnya ada juga yang di kerjakan di rumah masing masing karyawan-nya.

“Namun, masa keemasan usaha tersebut kini ter-ganjal pandemi yang melanda.‎ Usaha tambah sulit, order susah, pengiriman dan mengambil model dari Jakarta/Bandung susah” ungkapnya

“Padahal mayoritas pengusaha konveksi perumahan yang tumbuh subur di Pangandaran bergantung dari hutang untuk modal usaha mereka, baik ke lembaga keuangan maupun ke koperasi agar bisa bertahan di masa pandemi seperti saat ini, apabila serapan pasar konveksi terus menurun dan tidak segera bergairah lagi, bukan tidak mungkin konveksi perumahan di pangandaran perlahan ber guguran, ’tegas Nurjanah.

Meski demikian, Nur tidak menghentikan produksi dan tetap bertahan walau order-an sangat minim dengan harga per-potong-nya juga sangat murah. Usahanya hanya mengandalkan down payment (DP) atau uang muka dari konsumen. Hal itu juga cukup mempersulitnya, dengan kemampuan modal yang terbatas, produksi pun terancam.

“Akhirnya, ia men-siasati-nya dengan memproduksi pakaian yang ada dikirim dari bos nya yang baru, dengan memanfaatkan keadaan yang serba susah untuk bergerak. Pekerjaan yang dilakukan makin menyempit dan makin terkendala dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi ,”paparnya.

Sementara Ningsih (23),salah satu karyawannya saat di temui Team hipakad’63 News mengatakan, kami bertahan menjahit karena faktor ekonomi keluarga, memang kadang ada order-an kadang tidak, namun alhamdulillah sedikit ada pemasukan dan kami pun menyadari dengan situasi yang terjadi saat ini, mudah mudahan wabah dan aturan yang membuat para pekerja seperti kami makin sulit untuk tetap bertahan.

“Kami berharap ke pemerintah ada perhatian khusus untuk para pengusaha konveksi perumahan dan para pekerja-nya ada pelatihan khusus dan ada koperasi yang menangani industri perumahan seperti konveksi atau industri kecil lainnya,”pungkasnya. (Team /Hipakad63.news)